Mon. Oct 5th, 2026

Inilah Kiat Produk UMKM Tembus Pasar Ekspor

Inilah Kiat Produk UMKM Tembus Pasar Ekspor

Pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mengubah pola pikir ketika membidik pasar ekspor. Produk yang berkualitas tinggi tidak menjamin diterima oleh pasar luar negeri jika tidak disertai dengan pemahaman mendalam terkait standar regulasi dan kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor.

JAKARTA – Pengusaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mengubah pola pikir
ketika membidik pasar ekspor. Produk yang berkualitas tinggi tidak menjamin
diterima oleh pasar luar negeri jika tidak disertai dengan pemahaman mendalam
terkait standar regulasi dan kebutuhan pasar di negara tujuan ekspor.

Fasilitator Ekspor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekspor dan Jasa
Perdagangan  (PPEJP) Dede Saputra
mengatakan, pengusaha UMKM perlu mengubah pendekatan dari produk sebagai pusat
(product centric) menjadi kebutuhan pembeli (buyer centric) di
negara tujuan ekspor.

“Produk yang bagus saja tidak cukup. Buyer tidak hanya membeli
produk tapi keberlanjutan dan kepatuhan pada regulasi di negaranya. Pengusaha
UMKM harus paham bagaimana negara tujuan ekspor memutuskan dalam memilih
pemasok,” ujar Dede di Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Dia menegaskan hal itu ketika menjadi pembicara pada sesi Export
Bootcamp
yang merupakan rangkaian kegiatan Bootcamp UMKM Untuk Indonesia
(UUI) 2026: Kita Mau Kita Bisa, Menembus Batas Membuka Pasar Global.
Acara
yang diselenggarakan oleh Sampoerna Entrepreneurship Training Center (SETC) di
bawah Payung Program Keberlanjutan ”Sampoerna untuk Indonesia” ini menghadirkan
lebih dari 180 UMKM dari seluruh Nusantara.

Dede yang juga Tenaga Ahli Kementerian Perdagangan (Kemendag) itu
melanjutkan terdapat tiga pilar yang menjadi pertimbangan buyer untuk
memilih pemasok, khususnya jika menggunakan skema Business-to-Business (B2B).

Pertama, kepatuhan regulasi dan sertifikasi. Buyer internasional, katanya,
akan melakukan mitigasi risiko seperti kontainer barang yang tertahan di bea
cukai atau pemanggilan kembali produk (recall). Untuk menghindari hal
itu, pengusaha UMKM wajib memenuhi kelayakan mutu produk dan sejumlah syarat
sertifikasi di negara tujuan.

Dia mencontohkan untuk ekspor produk pangan ke pasar China, pengusaha UMKM
wajib memiliki sertifikat General Administration of Customs of the People’s
Republic of China
(GACC), sementara untuk masuk ke pasar Amerika Serikat, suatu
produk wajib memenuhi standar Food and Drug Administration (FDA).

Kedua, pengusaha UMKM harus memperhatikan keandalan pasokan produk. Keandalan
pasokan produk, tambahnya, terkait dengan jaminan kelancaran stok, memenuhi
standar operasional perusahaan (SOP), dan kualitas produk secara konsisten.

Dede mengingatkan ketika UMKM membawa contoh produk pada pameran
internasional atau business matching, pengusaha usaha harus bisa
memastikan pasokan jangka panjang. Ukuran keberhasilan dari pameran
internasional pertama-tama ialah mendapatkan buyer berkelanjutan, bukan
tentang produk yang laris.

“Jangan sampai saat diajak oleh Kemendag atau Bank Indonesia dalam
ajang seperti Trade Expo Indonesia (TEI), kita hanya jadi penghibur. Harus siap
segala macamnya,” tegas Dede.

Pilar ketiga, lanjut Dede, berkaitan dengan skema perdagangan
khususnya B2B. Buyer umumnya menghitung berdasarkan satuan palet atau
kontainer dan bukan berdasarkan produk eceran. Pengusaha UMKM perlu merinci
penetapan harga, kapasitas produksi bulanan, kemampuan mesin, jumlah SDM,
manajemen pasokan, hingga biaya jalur pengiriman (forwarder).

“Perlu diingat untuk B2B, lebih dari 78% buyer mengeliminasi
calon pemasok jika spesifikasi teknis, kualitas, sertifikasi food safety,
kapasitas tidak tercantum secara transparan sejak awal,” tegasnya.

Tren Pasar Global

Dede menambahkan pengusaha UMKM juga perlu belajar untuk membaca tren
kebutuhan pasar global atau validasi pasar. Cara paling sederhana, katanya,
ialah dengan melihat produk asal Indonesia yang paling laris di pasar global.

“Siapa pembeli terbesar, bagaimana tren pertumbuhan suatu produk,
karakter produk seperti apa, termasuk mapping Indonesian Trade Promotion
Center
(ITPC) dan Atase Perdagangan (Atdag) yang bisa membantu
ekspor,” jelasnya.

Selain membaca tren pasar global, pengusaha UMKM juga perlu mengecek produk
yang potensial asal Indonesia yang diterima di pasar global. Saat ini, tiga
produk UMKM Indonesia yang banyak diminati antara lain kopi, cokelat, dan
sepatu olahraga.

Selain mengubah pola pikir, Dede meminta pengusaha UMKM untuk menghindari
empat hal yang membuat produk tidak diterima pasar global. Pertama,
materi promosi atau brosur yang tidak sesuai dengan pasar negara tujuan.

“Jangan buat profil perusahaan dalam bahasa Indonesia ketika mengincar
pasar ekspor,” paparnya.

Kedua, hindari membuat klaim palsu terkait kapasitas produksi. Alih-alih
menyebut mampu memproduksi dalam skala tak terbatas, pengusaha UMKM lebih tepat
menjelaskan secara rinci kapasitas produksi riil secara jujur. Ketiga, pengusaha
UMKM juga perlu memperjelaskan minimum order quantity (MOQ) yang jelas
dan realistis.

“Terakhir, pahami ada perbedaan zona waktu dengan buyer
sehingga harus responsif ketika berkomunikasi,” imbuhnya.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA