{"id":32969,"date":"2025-10-25T22:26:10","date_gmt":"2025-10-25T13:26:10","guid":{"rendered":"https:\/\/orientpresswire.com\/?p=32969"},"modified":"2025-10-25T22:46:23","modified_gmt":"2025-10-25T13:46:23","slug":"lebih-dari-4-500-mahasiswa-upn-veteran-jakarta-belajar-berpikir-kritis-di-era-ai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/orientpresswire.com\/?p=32969","title":{"rendered":"Lebih dari 4.500 Mahasiswa UPN Veteran Jakarta Belajar Berpikir Kritis di Era AI"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup.<\/p>\n<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup.<\/p>\n<h2>Ketika AI Menjawab, Siapa yang Berpikir?<\/h2>\n<p>&#8220;Di era AI sekarang, kita sering bertanya pada AI<br \/>\ntanpa crosscheck kebenarannya. Padahal jawaban AI belum tentu akurat,&#8221;<br \/>\nujar Jaka membuka sesi. Pernyataan sederhana itu langsung menyentuh realitas<br \/>\nmahasiswa yang tumbuh di era ChatGPT.<\/p>\n<p>Ia kemudian memberikan contoh mengejutkan: sebuah<br \/>\npenelitian MIT Media Lab yang viral dengan headline media &#8220;Menggunakan<br \/>\nChatGPT bikin lebih bodoh.&#8221; Sebagai critical thinker, Jaka mengajak<br \/>\nmahasiswa untuk tidak langsung percaya. &#8220;Kita perlu cek: seperti apa<br \/>\nmetode penelitiannya? Apa yang dimaksud &#8216;lebih bodoh&#8217;?&#8221;<\/p>\n<p>Ternyata, penelitian oleh Dr. Nataliya Kosmyna berjudul<br \/>\n&#8220;Your Brain on ChatGPT&#8221; melibatkan 54 mahasiswa yang dibagi tiga<br \/>\nkelompok: menulis esai dengan otak saja, dengan Google, dan dengan ChatGPT.<br \/>\nKelompok ChatGPT menunjukkan aktivitas otak paling lemah.<\/p>\n<p>&#8220;Tapi ini bukan berarti ChatGPT membuat bodoh. Ini<br \/>\nberarti penggunaan AI tanpa critical thinking membuat otak kita pasif,&#8221;<br \/>\njelas pria yang memiliki lebih dari 13 tahun pengalaman mengembangkan sistem AI<br \/>\nberskala enterprise ini. &#8220;Yang penting bukan menghindari AI, tapi<br \/>\nmenggunakan AI dengan bijak.&#8221;<\/p>\n<h2>Membedah Argumen yang Terdengar Meyakinkan<\/h2>\n<p>Jaka mengajak mahasiswa bermain detektif logika. Argumen<br \/>\npertama: &#8220;Lulusan universitas ternama pasti sukses. Jadi kalau mau sukses,<br \/>\nharus masuk universitas ternama.&#8221;<\/p>\n<p>Melalui polling, mayoritas mahasiswa menganggap argumen<br \/>\nitu cacat. Intuisi mereka ternyata tepat. Setelah dibedah menggunakan<br \/>\nPaul-Elder Critical Thinking Framework, terungkap logical fallacy<br \/>\n&#8220;Correlation \u2260 Causation&#8221;. &#8220;Memang benar banyak lulusan<br \/>\nuniversitas ternama yang sukses. Tapi apakah karena mereka dari universitas<br \/>\nternama? Atau karena faktor lain seperti kerja keras, networking, atau<br \/>\nskill?&#8221;<\/p>\n<p>Argumen kedua lebih menohok: &#8220;Tidak perlu belajar<br \/>\nmatematika karena ada AI dan kalkulator.&#8221; Setelah dianalisis, terungkap<br \/>\nargumen ini mengandung asumsi tersembunyi dan logical fallacy &#8220;False<br \/>\nDilemma&#8221;. &#8220;Matematika bukan cuma tentang hitung-hitungan. Matematika<br \/>\nmelatih cara berpikir untuk solve complex problems dan analyze patterns,&#8221;<br \/>\nterang mantan AVP AI Product Management di Indosat ini.<\/p>\n<h2>Pertanyaan yang Menyentuh Inti<\/h2>\n<p>Di tengah sesi, seorang mahasiswa UPN Veteran Jakarta bertanya:<br \/>\n&#8220;Banyak orang percaya berpikir kritis artinya menentang atau mengkritisi<br \/>\nberlebihan. Bagaimana menyeimbangkannya?&#8221;<\/p>\n<p>Jaka menjawab, &#8220;Inti dari berpikir kritis adalah<br \/>\nberpikir jernih dan rasional. Dalam argumen bisa jadi tidak semuanya salah \u2013<br \/>\nbisa jadi ada yang benar, bahkan solid. Jika argumennya solid, harus kita<br \/>\nterima. Bila ada yang benar, apresiasi dulu baru kritisi dengan santun dan<br \/>\nelegan. Terkadang problemnya bukan pada isinya, tapi cara<br \/>\nmenyampaikannya.&#8221;<\/p>\n<p>Pertanyaan kedua dari seorang mahasiswi UPN Veteran<br \/>\nJakarta, &#8220;Mengapa kemampuan berpikir kritis lebih penting daripada<br \/>\npelajaran mata kuliah?&#8221;<\/p>\n<p>Mantan Lead Data Scientist di Telkom ini merespons dengan<br \/>\nperspektif praktis: &#8220;Keduanya penting. Di awal-awal saya bekerja,<br \/>\npelajaran kuliah sangat terpakai. Tapi berpikir kritis juga penting karena kita<br \/>\nharus membuat argumen yang jernih dan rasional agar diterima stakeholder,<br \/>\nseperti atasan, rekan kerja, partner, maupun klien. Critical thinking juga<br \/>\nmemperkuat kemampuan problem solving untuk menyelesaikan berbagai tantangan di<br \/>\ndunia kerja.&#8221;<\/p>\n<h2>Dari Startup AI ke Ruang Kelas Virtual<\/h2>\n<p>Deangan latar belakangnya yang telah membantu puluhan perusahaan<br \/>\nmengimplementasikan AI dari nol sampai implementasi dan operasional, Jaka<br \/>\nmemberikan perspektif unik kepada para mahasiswa.\u00a0 Pria yang dapat dihubungi melalui <a href=\"https:\/\/www.linkedin.com\/in\/jap\/\">LinkedIn<\/a><br \/>\nini tidak hanya berbicara dari teori, tetapi dari pengalaman langsung membangun<br \/>\ndan mengimplementasikan solusi AI.<\/p>\n<p>&#8220;Yang terpenting bagaimana manusia menggunakannya<br \/>\ndengan bijak. Di dunia kerja, AI bisa kasih data, tapi kalian yang harus<br \/>\nevaluate: apakah data ini akurat? Apakah kesimpulan ini logis? Apakah ada<br \/>\nperspektif lain?&#8221;<\/p>\n<p>Meski dihadiri ribuan peserta, Jaka yang juga Jakarta City<br \/>\nLead di Buildclub.ai, komunitas para AI builder di seluruh dunia ini, berhasil<br \/>\nmenciptakan suasana interaktif. Ia juga membahas berbagai jenis cognitive bias dan <i>logical fallacy<\/i> dalam webinar<br \/>\ntersebut.<\/p>\n<h2>Kebebasan untuk Berpikir<\/h2>\n<p>Di penghujung sesi, Jaka meninggalkan pesan resonan,<br \/>\n&#8220;Critical thinking bukan tentang jadi orang yang skeptis terhadap<br \/>\nsegalanya atau selalu debat. Critical thinking adalah tentang kebebasan. Ketika<br \/>\nkalian bisa berpikir kritis, kalian tidak lagi menjadi budak dari opini orang<br \/>\nlain, manipulasi media, tekanan sosial, informasi yang salah, dan keputusan<br \/>\nyang buruk.&#8221;<\/p>\n<p>Ia menutup dengan tiga tantangan, yaitu selalu bertanya,<br \/>\nselalu verifikasi, dan selalu refleksi.<\/p>\n<p>Antusiasme yang terlihat dari aktifnya chat, polling, dan<br \/>\ndiskusi menunjukkan bahwa critical thinking bukan sekadar topik akademis. Di<br \/>\nera AI yang dipenuhi informasi dari berbagai sumber, kemampuan untuk berpikir<br \/>\njernih dan rasional menjadi semakin krusial.<\/p>\n<p>Ketika webinar berakhir, ribuan mahasiswa UPN Veteran<br \/>\nJakarta itu tidak hanya membawa pengetahuan tentang <i>Critical Thinking Framework<\/i>,<br \/>\n<i>Cognitive Bias<\/i> dan <i>Logical Fallacies<\/i>. Mereka membawa kesadaran<br \/>\nbahwa pikiran mereka adalah milik mereka sendiri, dan mereka punya kuasa untuk<br \/>\nmemilih bagaimana menggunakannya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan Nasional &#8220;Veteran&#8221; Jakarta berkumpul secara virtual, Rabu (23\/10), untuk mengikuti webinar Critical Thinking dalam rangkaian acara PROSPEKTIV 2025. Sesi ini dibawakan oleh pemateri Jaka Arya Pradana, founder dan CEO sebuah agentic AI startup. Jakarta \u2013 Sebanyak 4.582 mahasiswa baru dari seluruh fakultas Universitas Pembangunan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":32971,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-32969","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32969","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=32969"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32969\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":32970,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/32969\/revisions\/32970"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/32971"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=32969"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=32969"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=32969"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}