{"id":26199,"date":"2025-08-11T17:16:20","date_gmt":"2025-08-11T08:16:20","guid":{"rendered":"https:\/\/orientpresswire.com\/?p=26199"},"modified":"2025-08-11T17:46:43","modified_gmt":"2025-08-11T08:46:43","slug":"walau-indonesia-dikenai-tarif-19-oleh-amerika-serikat-tarif-impor-baja-merah-putih-ke-negeri-paman-sam-bisa-tembus-50","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/orientpresswire.com\/?p=26199","title":{"rendered":"Walau Indonesia Dikenai Tarif 19% oleh Amerika Serikat, Tarif impor Baja Merah Putih ke Negeri Paman Sam Bisa Tembus 50%"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, 11 Agustus 2025 &#8211; Harapan pelaku industri baja Indonesia untuk menikmati tarif masuk preferensial 19% ke pasar Amerika Serikat (AS) harus terkubur dalam-dalam. Kenyataannya, produk baja nasional justru dihadapkan pada tarif lebih dari 50% akibat kebijakan proteksionis Washington. Kondisi ini tidak hanya membatasi akses ekspor, tetapi juga memicu ancaman serius bagi pasar domestik.\n<\/p>\n<p>Kesepakatan<br \/>\ndagang antara Indonesia dan Amerika Serikat yang diumumkan pada 22 Juli 2025,<br \/>\nyang seolah menjanjikan tarif 19% melalui\u00a0Executive Order (EO) 14257,<br \/>\nternyata tidak berlaku untuk sektor baja. Dokumen kebijakan tersebut secara<br \/>\neksplisit mengecualikan produk baja dan aluminium, yang tetap tunduk pada rezim<br \/>\ntarif khusus\u00a0Section 232.<\/p>\n<p>Berdasarkan<br \/>\nketentuan\u00a0Section 232, seluruh produk baja Indonesia tanpa terkecuali<br \/>\ndikenai tarif dasar sebesar 50%. &#8220;Ini adalah realita yang harus kita<br \/>\nhadapi. Angka 19% itu tidak berlaku untuk baja,&#8221; ungkap Widodo<br \/>\nSetiadharmaji, pemerhati industri baja dan pertambangan.<\/p>\n<p>Beban<br \/>\nbiaya itu, tekan Widodo Setiadharmaji, bahkan menjadi lebih besar untuk<br \/>\nproduk-produk strategis. Misalkan, untuk baja canai panas (HRC), pelat, baja<br \/>\ntulangan, dan\u00a0PC Strand, tarif efektifnya bisa meroket hingga 108%\u2013122%.<br \/>\nAngka fantastis ini merupakan akumulasi dari tarif dasar 50% ditambah dengan<br \/>\nbea antidumping (AD) dan bea imbalan (CVD) yang mencapai 58\u201372%.<\/p>\n<p>Meskipun<br \/>\nbegitu, ungkap Widodo Setiadharmaji, secercah peluang tetap ada. Produk baja<br \/>\nlapis (coated steel),\u00a0stainless steel, dan\u00a0alloy\u00a0tertentu yang<br \/>\ntidak dikenai\u00a0trade remedies\u00a0tambahan, tarifnya &#8220;hanya&#8221;<br \/>\nberkisar 50\u201355%.<\/p>\n<p><b>Peluang di<br \/>\nTengah Tekanan<\/b><\/p>\n<p>Walaupun<br \/>\ntertekan tarif tinggi, pasar AS yang premium tetap menjadi magnet. Harga HRC di<br \/>\npasar Midwest AS yang sempat menyentuh lebih dari US$900<br \/>\nper\u00a0short-ton\u00a0(sekitar Rp14,7 juta per\u00a0short-ton) jauh melampaui<br \/>\nharga baja di pasar global lainnya. Selisih harga yang signifikan ini membuat<br \/>\npasar AS tetap menarik, bahkan jika baja produk Indonesia dikenai tarif 50%.<\/p>\n<p>&#8220;Peluang<br \/>\nekspor masih terbuka, terutama untuk jenis produk yang tidak terkena bea masuk<br \/>\ntambahan,&#8221; ujar Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk\u00a0Akbar<br \/>\nDjohan.<\/p>\n<p>PT<br \/>\nKrakatau Steel melalui PT Krakatau Baja Industri dan PT Tata Metal Lestari baru-baru<br \/>\nini kembali melakukan ekspor baja seberat 10.000 ton ke Amerika Serikat. Kegiatan<br \/>\nekspor ini merupakan lanjutan program ekspor sebelumnya yang mengapalkan 2.400<br \/>\nton baja ke Polandia.<\/p>\n<p>Akbar<br \/>\nDjohan menegaskan sejak Maret 2025 hingga sekarang perseroan, selain melakukan<br \/>\nekspor ke Amerika Serikat dan Polandia, PT Krakatau Steel juga melakukan<br \/>\nberbagai kesepakatan kerja sama dan aksi korporasi untuk meningkatkan<br \/>\npenjualan. Manajemen perusahaan juga terus berbenah dan konsisten melakukan<br \/>\ntransformasi maupun restrukturisasi guna melewati berbagai tantangan ekonomi. <\/p>\n<p>Seperti<br \/>\nkata Widodo Setiadharmaji, dampak dari kebijakan tarif impor AS dan proteksi<br \/>\nterhadap baja impor berpotensi merugikan industri baja Indonesia. Kebijakan<br \/>\ntersebut bisa memaksa negara-negara produsen baja global untuk mengalihkan<br \/>\ntujuan ekspor mereka dari AS ke pasar lain yang lebih terbuka, termasuk<br \/>\nIndonesia. Potensi banjir produk impor ini dapat menciptakan kelebihan pasokan<br \/>\ndi pasar lokal, yang ujung-ujungnya memicu perang harga tidak sehat. <\/p>\n<p>\u201cProdusen<br \/>\ndalam negeri sangat berisiko tertekan, bahkan bisa terpaksa menjual produk di<br \/>\nbawah biaya produksi jika tidak ada kebijakan perlindungan yang memadai,\u201d jelas<br \/>\nWidodo Setiadharmaji.<\/p>\n<p>Menghadapi<br \/>\nsituasi ini, Widodo Setiadharmaji mendesak pemerintah dan pelaku industri untuk<br \/>\nmengambil langkah-langkah strategis dan terkoordinasi. Ia mengusulkan tiga<br \/>\nlangkah utama, yaitu:<\/p>\n<p>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nPertama,\u00a0memperkuat benteng pertahanan pasar<br \/>\ndomestik\u00a0menjadi sebuah keharusan. Penggunaan instrumen\u00a0safeguard,<br \/>\nantidumping, dan bea imbalan perlu dioptimalkan untuk melindungi industri<br \/>\nnasional dari gelombang impor.<\/p>\n<p>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nKedua,\u00a0diversifikasi pasar ekspor\u00a0ke kawasan<br \/>\nnon-tradisional seperti Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan menjadi kunci<br \/>\nuntuk menjaga volume ekspor di tengah ketatnya persaingan.<\/p>\n<p>\u00b7\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<br \/>\nKetiga, upaya\u00a0negosiasi diplomatik\u00a0untuk mendapatkan<br \/>\nkuota tarif khusus dari AS, seperti yang berhasil diperoleh Jepang dan Korea<br \/>\nSelatan, perlu terus diperjuangkan. Melalui skema ini, sejumlah volume ekspor<br \/>\nbaja Indonesia bisa masuk ke pasar AS dengan tarif yang lebih ringan. (***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 11 Agustus 2025 &#8211; Harapan pelaku industri baja Indonesia untuk menikmati tarif masuk preferensial 19% ke pasar Amerika Serikat (AS) harus terkubur dalam-dalam. Kenyataannya, produk baja nasional justru dihadapkan pada tarif lebih dari 50% akibat kebijakan proteksionis Washington. Kondisi ini tidak hanya membatasi akses ekspor, tetapi juga memicu ancaman serius bagi pasar domestik. Kesepakatan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":26201,"comment_status":"close","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-26199","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26199","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=26199"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26199\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":26200,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/26199\/revisions\/26200"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/26201"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=26199"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=26199"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/orientpresswire.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=26199"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}