Tue. Aug 18th, 2026

Tigo AI Gabungkan Konten AI dan 100 Ribu+ Kreator untuk Efisiensi Iklan E-Commerce

JAKARTA — Persaingan e-commerce dan social commerce di Indonesia membuat brand semakin aktif beriklan melalui TikTok, Instagram, Shopee, Lazada, dan berbagai kanal digital lainnya. Namun, meningkatnya anggaran promosi belum tentu selalu diikuti oleh peningkatan transaksi.

Biaya kerja sama dengan influencer, produksi konten yang membutuhkan waktu, serta kesulitan mengukur hasil kampanye menjadi beberapa tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Kondisi tersebut mendorong brand mulai mencari model pemasaran yang lebih efisien dan dapat menghubungkan biaya promosi dengan hasil bisnis.

Tigo AI hadir dengan pendekatan pemasaran berbasis artificial intelligence yang menggabungkan produksi konten, jaringan micro-creator, distribusi multi-kanal, serta analisis performa kampanye dalam satu ekosistem.

Pada sisi produksi, Tigo AI menggunakan teknologi AI untuk membantu membuat berbagai materi pemasaran, mulai dari video pendek, konten visual, hingga naskah promosi. Materi dapat disesuaikan untuk kebutuhan platform seperti TikTok, Instagram, dan e-commerce.

Kemampuan menghasilkan beberapa variasi materi dalam waktu lebih cepat juga memungkinkan brand melakukan A/B testing untuk melihat jenis konten yang mendapatkan respons terbaik dari audiens.

Selain produksi konten, salah satu fokus Tigo AI adalah distribusi melalui kreator lokal. Berdasarkan informasi perusahaan, jaringan tersebut saat ini telah mencakup lebih dari 100 ribu kreator lokal dengan karakter audiens dan komunitas yang beragam.

Alih-alih hanya bergantung pada satu influencer besar, sebuah kampanye dapat melibatkan banyak kreator untuk menghasilkan konten berbentuk review, pengalaman penggunaan, tutorial, maupun rekomendasi produk. Pendekatan ini ditujukan untuk membuat komunikasi brand terasa lebih dekat dengan pola konsumsi konten sehari-hari pengguna media sosial.

Tigo AI juga menyediakan sistem pemantauan performa yang memungkinkan advertiser melihat data seperti exposure, engagement, traffic, hingga transaksi. Sistem tersebut dilengkapi mekanisme anti-fraud untuk membantu menyaring aktivitas atau traffic yang dinilai tidak valid.

Untuk kebutuhan advertiser yang berbeda, perusahaan menawarkan beberapa model kerja sama. Salah satunya adalah biaya layanan platform sebesar 15 persen untuk kampanye tertentu. Pilihan lainnya menggunakan model Cost per Action (CPA) atau Cost per Sale (CPS), sehingga pembayaran dapat dikaitkan dengan tindakan atau transaksi yang dihasilkan.

Model tersebut memberi pilihan kepada pelaku usaha untuk menyesuaikan kampanye dengan tujuan bisnis dan tingkat risiko masing-masing.

Tigo AI juga membedakan layanan berdasarkan skala bisnis. Brand dengan kebutuhan besar dapat menjalankan produksi materi dan distribusi kreator dalam volume lebih tinggi. Seller yang sedang berkembang dapat memanfaatkan pencocokan dengan kreator yang sesuai kategori produk, sementara beberapa layanan untuk UMKM, menurut informasi perusahaan, dapat dimulai dengan anggaran sekitar Rp50 ribu, tergantung jenis kampanye.

Melalui pendekatan ini, Tigo AI ingin membantu brand melihat pemasaran digital bukan hanya dari jumlah exposure, tetapi juga dari hubungan antara konten, distribusi, data, dan hasil bisnis.

Platform juga menempatkan lokalisasi sebagai bagian penting dalam strategi pemasaran. Konten dikembangkan dengan mempertimbangkan bahasa, budaya, serta karakter pengguna media sosial Indonesia agar materi tidak sekadar mengikuti pola pemasaran dari pasar lain.

Ke depan, Tigo AI berencana terus memperluas jaringan advertiser dan kreator, memperkuat data UGC lokal, serta mengembangkan teknologi AI untuk mendukung kebutuhan pemasaran di Indonesia.

Informasi mengenai layanan advertiser, produksi konten AI, jaringan kreator, serta model kampanye tersedia melalui tigoads.com.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA